LENSA.TODAY, -(GORONTALO)- Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Gorontalo kini tak sekadar menjadi bahan perbincangan. ia berubah menjadi bara kekecewaan yang menyala di tengah masyarakat. Program yang digadang-gadang sebagai benteng pemenuhan gizi anak-anak sekolah dasar selama Bulan Suci Ramadan justru menghadirkan ironi yang menyesakkan.
Alih-alih menerima makanan bergizi yang layak untuk masa pertumbuhan mereka, para siswa disebut hanya mendapatkan lima buah langsat, tiga keping tempe goreng, satu butir telur rebus, dan sepotong roti tanpa merek tanpa identitas, tanpa informasi kandungan gizi, tanpa kepastian mutu. Pemandangan itu bukan hanya memantik kritik, tetapi juga menyentuh nurani banyak orang tua yang berharap anak-anak mereka mendapat asupan terbaik dari program pemerintah.

Kekecewaan publik semakin membesar ketika aspek anggaran ikut dipertanyakan. Jika ditaksir berdasarkan harga pasar, nilai satu paket makanan diperkirakan hanya berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp7.500.
Angka ini menimbulkan tanda tanya besar. Apakah memang sebesar itu nilai yang pantas untuk memenuhi kebutuhan gizi seorang anak? Jika anggaran per porsi sebenarnya lebih tinggi, ke mana selisihnya? Pertanyaan-pertanyaan ini menggantung tanpa jawaban yang memuaskan.
Program sosial bukan sekadar soal membagi makanan. Ia adalah janji. Janji bahwa negara hadir untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Ketika pelaksana di tingkat dapur bekerja tanpa standar yang jelas dan tanpa pengawasan mutu yang ketat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi program akan tetapi masa depan anak-anak itu sendiri.
Olehnya, diharapkan kepada pemerintah daerah segera melakukan audit dan evaluasi menyeluruh pun kian menguat. Transparansi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Jika ditemukan adanya kelalaian atau penyimpangan, tindakan tegas harus diambil. Tidak boleh ada kompromi ketika menyangkut hak dasar anak-anak atas makanan bergizi. (Arb)









