LENSA.TODAY, -(OPINI)- Angin Musyawarah Daerah (Musda) di tubuh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kabupaten Gorontalo bukan lagi sekadar berhembus, ia telah menjelma menjadi badai kecil yang menguji arah dan keteguhan organisasi.
Ditengah tarik-ulur yang tak berujung, satu per satu nama muncul ke permukaan. Namun, dari sekian banyak figur, hanya satu yang terus bertahan dalam percakapan antar kader yakni Haris Tome.
Bukan tanpa alasan. Ketika dinamika internal mulai menunjukkan gejala fragmentasi, sosok pemimpin yang dibutuhkan bukan lagi sekadar populer, melainkan yang mampu merangkul, menenangkan, dan menyatukan. Dalam konteks ini, Haris Tome berdiri bukan sebagai alternatif, melainkan sebagai keniscayaan.

Sejumlah tokoh alumni mulai membaca situasi ini dengan lebih jernih. Mereka menyadari bahwa Musda kali ini bukan hanya soal regenerasi kepemimpinan, tetapi tentang menyelamatkan arah organisasi.
KAHMI Kabgor membutuhkan figur yang tidak hanya memahami tradisi intelektualnya, tetapi juga memiliki kapasitas komunikasi lintas kelompok. Dan di titik itulah, nama Haris Tome menemukan relevansinya.
Di tengah derasnya kepentingan, Haris Tome justru tampil sebagai titik temu. Ia bukan representasi satu kubu, melainkan jembatan bagi semua. Pengalamannya dalam merawat jejaring, ketenangannya dalam menghadapi dinamika, serta rekam jejaknya dalam organisasi menjadi alasan kuat mengapa banyak pihak mulai mengerucutkan pilihan.
Realitasnya, tidak semua nama memiliki daya rekat yang sama. Sebagian mungkin kuat secara basis, namun lemah dalam akseptabilitas. Sebagian lain mungkin vokal, tetapi belum tentu mampu menyatukan.
Dalam situasi seperti ini, kompromi bukan lagi pilihan terbaik, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang secara alami diterima. Dan di sinilah narasi itu menguat bahwa hanya Haris Tome yang layak memimpin KAHMI Kabgor ke depan.
Musda tidak boleh lagi menjadi arena yang memperpanjang perbedaan. Ia harus menjadi titik balik. Dan jika organisasi ini ingin keluar dari pusaran stagnasi, maka memilih figur yang paling mampu menyatukan adalah langkah yang tak bisa ditawar.
Angin itu masih berhembus. Namun arahnya kini mulai jelas, menuju satu nama yang dianggap paling siap menjawab tantangan zaman yakni Haris Tome. (Arb)







