LENSA.TODAY, -(KABGOR)- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Gorontalo menuai sorotan dari orang tua siswa. Salah satu wali murid mengeluhkan kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa tingkat SD dan SMP karena dinilai tidak layak untuk dikonsumsi.
Orang tua siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan itu mengaku khawatir terhadap kualitas menu yang diterima anak-anak. Ia menilai makanan yang dibagikan melalui program tersebut tidak memenuhi standar kelayakan konsumsi.

“Menu seperti ini menurut kami tidak layak dikonsumsi anak-anak,” ujarnya dengan nada kecewa.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan temuan saat pembagian makanan di sejumlah sekolah SD dan SMP di Kabupaten Gorontalo, terdapat menu yang diduga sudah melewati masa kedaluwarsa. Pada label kemasan tercantum tanggal kedaluwarsa 7 Februari 2026, sementara makanan tersebut masih dibagikan kepada para siswa.
Temuan tersebut memicu pertanyaan serius mengenai proses pengadaan, distribusi, serta pengawasan kualitas makanan dalam program MBG. Para orang tua menilai pengawasan dari pihak terkait masih lemah, padahal program ini menyasar anak-anak yang seharusnya mendapatkan asupan makanan yang aman dan bergizi.
Orang tua siswa itu pun meminta pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut. Ia menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, khususnya dalam memastikan kualitas makanan yang disajikan kepada para siswa.
Bahkan, ia menegaskan jika persoalan ini tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah, maka aparat penegak hukum diminta turun tangan untuk melakukan penelusuran terhadap pengadaan menu dalam program tersebut.
“Kalau pemerintah tidak memperhatikan hal ini, kami meminta Kejaksaan Negeri Kabupaten Gorontalo menelusuri pengadaan menu yang diduga dilakukan secara asal-asalan,” tegasnya.
Kasus ini menjadi peringatan penting bahwa program yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak tidak boleh dijalankan secara serampangan. Tanpa pengawasan yang ketat, program yang seharusnya membawa manfaat justru berpotensi membahayakan kesehatan para siswa. (Arb)








