LENSA.TODAY, -(GORONTALO)- Ratusan petani yang terkadang menunggu peruntungan rejeki, lewat hasil pertanian dikawasan kecamatan Mootilango harus bersedih dimusim panen tahun ini.
Ironisnya, kesedihan ini jelang event yang dibilang berskala nasional PENAS (Pertemuan Nasional) petani dan nelayan XVII di Provinsi Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, 20-25 Juni 2026 nanti.
Dari informasi yang yang diberikan pelaku pertanian disana, kurang lebih ada 65 pantango yang tidak bisa dipanen. Artinya bukan gagal, namun hasil yang siap dipanen itu, hanya jadi tontonan, terbiarkan karena terkendala 1 alat, Combain Hardfester yang biasa dikalangan petani disebut odong odong.
” Kurang lebih ada 300 juta kerugian diperkirakan kami pak. Kurang lebih 700 Koli atau 28 ton, Dan ada kurang lebih pula 100 KK yang tidak bisa menikmati hasil pertanian dari sini,” ujarnya.
Sebab kerugian itu taksiran mereka, mulai dari biaya kontrak sawah Pengelohan tanah, bajak, pupuk, semprot hama, nutrisi dll, yang jika dikalkulasi biayanya Rp 3 juta perpantango.
Dari mereka, sudah mengajukan proposal bantuan peminjaman alat pelayanan ke Dinas Pertanian Provinsi, namun sampai sekarang tidak direspon.
” Sudah ada 3 kali mereka datang melihat, namun hanya habis mengecek lalu foto, namun alat tidak kunjung datang. Bahkan terakhir kami agak keras merespon mereka datang,” pungkasnya.
Mereka pun bahkan untuk itu rela menelpon pelaku tank diluar Gorontalo Toli Toli buol, sulteng. Namun juga hanya hitung beberapa hari, karena diwilayah mereka juga musim panen.
“Kalau cuma ongkos BBM untuk mobil pengangkut, kami siap membayarnya. Dan itu sudah kami siapkan. Namun sayangnya dari Dinas Pertanian Provinsi, janji tinggal janji. Alat tetap tak datang,” Paparnya.
Padahal menurut informasi mereka, alat seperti itu tersebar sangat banyak di Gorontalo ini, “Kami hanya butuh 1 unit saja, tapi susahnya minta ampun. Proposal sudah kita masukan, namun Yah..begitu,” tukas mereka penuh kecewa.
Akan soal ini, pemandangan yang cukup miris. Seharusnya petani harus menjadi garda terdepan yang harus diperhatikan oleh pemerintah.
“Bukankah adanya petani, makanya hadir sebuah institusi pemerintah dan itu dinas pertanian. Kalau tak ada mereka para petani, maka dinas tak ada. Kalau petani tidak diperhatikan seperti ini, bubarkan saja dinas pertanian,” ungkap salah satu pemerhati pertanian kabgor.
Apalagi ini petani di Kabupaten Gorontalo. Wilayah Boliyohuto Cs. Kawasan ini merupakan areal terbesar penyumbang hasil pertanian padi.
Belum lagi ada Penas dalam waktu dekat ini, di tahun yang sama hasil panen mereka butuh alat, 2026. Dan kejadian ini miris juga ditahun yang sama adanya event nasional itu.
Sementara itu Dinas terkait Grace Rawung mengatakan nanti akan mengecek soal surat itu. Namun dirinya membenarkan soal kabar itu.
” Ya, kabarnya pihak kerabat diantara mereka juga punya alat yang sama. Kenapa tidak itu saja. Makanya saya juga tidak tau kenapa,” Jawabnya.
Kalau soal surat peminjaman itu. Dirinya beralasan pihaknya punya kesibukan yang cukup tinggi sehingga masih akan mengeceknya. Itu juga yang menjadi alasan kenapa mereka belum turun kelapangan.
“Kita akan cek dulu. Kita nanti akan turun melihat lokasi itu,” paparnya. (*)








