LENSA.TODAY., (GORUT) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi perhatian publik, terutama terkait besarnya alokasi anggaran yang dikucurkan pemerintah pusat.
Sebagaimana dikutip dari artikel CNBC Indonesia berjudul “Dapur MBG Dapat Rp500 Juta/Hari, Buat Apa Saja?”, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menyebutkan bahwa setiap dapur MBG atau SPPG menerima alokasi anggaran rata-rata Rp500 juta per hari. Skema tersebut merupakan bagian dari pola baru penyaluran dana yang diterapkan Badan Gizi Nasional.
Namun, ketika ditemui pada Rabu (04/03/2026) di lokasi operasional SPPG Popalo, Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Kepala SPPG Popalo, Wiwan Anyole, justru belum mampu memberikan angka pasti terkait total anggaran yang telah diterima dan digunakan.
Saat ditanya mengenai besaran dana yang sudah dicairkan serta rincian penggunaannya, Wiwan berdalih bahwa pihaknya belum melakukan rekapan anggaran selama ini. Ia hanya memastikan bahwa pada awal operasional, SPPG Popalo menerima anggaran sebesar Rp500 juta.
Pernyataan tersebut memunculkan tanda tanya besar. Pasalnya, dengan alokasi anggaran yang mencapai ratusan juta rupiah per hari, transparansi dan akuntabilitas menjadi aspek yang sangat krusial. Terlebih, program ini menyasar kurang lebih 1.400 siswa sebagai penerima manfaat di wilayah tersebut.
Jika dihitung secara sederhana, dengan asumsi Rp500 juta per hari untuk 1.400 siswa, maka anggaran per siswa per hari berada pada angka yang signifikan. Publik pun wajar mempertanyakan komposisi penggunaan dana tersebut: berapa persen untuk bahan pangan, distribusi, tenaga kerja, operasional dapur, hingga pengawasan mutu?
Sebagai program strategis nasional yang menyentuh kebutuhan dasar anak-anak sekolah, MBG seharusnya dikelola dengan prinsip keterbukaan informasi. Ketidaksiapan dalam menyampaikan data rekapan anggaran berpotensi memunculkan persepsi negatif di tengah masyarakat. ~A2








