LENSA.TODAY, -(OPINI)- Peringatan 27 tahun pengabdian bukanlah sekadar penanda waktu yang berlalu, melainkan cermin panjang tentang konsistensi yang terus diuji oleh perubahan zaman. Bagi kami, angka itu tidak berdiri sebagai simbol seremoni tahunan semata, tetapi sebagai rekam jejak perjalanan yang sarat dengan pengorbanan, keputusan-keputusan sulit, dan kesetiaan pada sumpah yang tidak pernah pudar.
Persaudaraan yang tumbuh di tubuh prajurit bukanlah konsep yang dibangun dari kata-kata, melainkan lahir dari pengalaman nyata di medan tugas. Ia terbentuk dari situasi-situasi genting, dari rasa saling menjaga ketika keadaan tidak pasti, dan dari kepercayaan yang terbangun tanpa syarat.
Dalam kondisi seperti itu, perbedaan asal satuan, daerah, bahkan latar belakang menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah keyakinan bahwa di samping kita berdiri seseorang yang akan menjaga, apa pun risikonya. Itulah fondasi kekuatan kami yang sesungguhnya.

Namun, kami juga menyadari bahwa tantangan pengabdian hari ini tidak lagi sama seperti masa lalu. Jika dahulu ancaman lebih mudah dikenali dalam bentuk fisik dan konvensional, kini prajurit dihadapkan pada kompleksitas baru, perubahan sosial, perkembangan teknologi, hingga dinamika keamanan yang tidak kasatmata. Situasi ini menuntut kami untuk tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga adaptif secara pemikiran dan sikap.
Karena itu, peringatan seperti ini seharusnya menjadi ruang refleksi yang jujur. Kita tidak boleh terjebak dalam kebanggaan terhadap masa lalu tanpa bertanya, apakah kita sudah cukup siap menghadapi masa depan?
Pengabdian tidak boleh berhenti sebagai kenangan, tetapi harus terus diperbarui agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Di sisi lain, harapan masyarakat terhadap institusi militer semakin besar.
Profesionalisme tidak lagi cukup diukur dari kemampuan tempur semata, tetapi juga dari kedekatan dan kepekaan terhadap rakyat. Prajurit hari ini dituntut hadir bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pada akhirnya, waktu akan terus berjalan tanpa menunggu siapa pun. Ia akan terus menguji, bukan hanya kemampuan, tetapi juga ketulusan dan makna dari pengabdian itu sendiri.
Pertanyaannya sederhana, namun mendasar, apakah semangat persaudaraan dan dedikasi itu benar-benar hidup dalam setiap langkah kita, atau hanya hadir sebagai bagian dari seremoni yang berulang setiap tahun? jawaban atas pertanyaan itu yang akan menentukan arah pengabdian ke depan.
Oleh : Kapten Inf Ihram








