LENSA.TODAY, -(KABGOR)- Menara Keagungan Pakaya Tower, yang selama ini dielu-elukan sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan Kabupaten Gorontalo, kini berdiri bagai raksasa tua yang perlahan menua dalam pengabaian. Di balik siluetnya yang menjulang ke langit, tersimpan kondisi mengenaskan yang luput dari perhatian serius pihak berwenang.
Sekilas, menara ini masih tampak megah, terutama di bagian bawah yang terlihat terawat. Namun, pemandangan itu seolah hanya topeng. Fakta sebenarnya justru tersembunyi di bagian atas area yang jarang tersentuh, jarang diperiksa, dan seakan sengaja diabaikan. Cat yang mengelupas, warna yang memudar, serta struktur yang tampak usang menjadi pertanda jelas bahwa usia bangunan tak lagi muda. Lebih dari 2 dekade berdiri, Pakaya Tower kini memperlihatkan tanda-tanda kelelahan yang tak bisa disangkal.

Kekhawatiran publik pun kian membesar. Besi-besi penyangga yang terus terpapar panas, hujan, dan angin selama puluhan tahun dikhawatirkan telah mengalami pelapukan serius. Jika dugaan ini benar, maka bahaya mengintai setiap saat. Bukan tidak mungkin, bagian struktur yang rapuh dapat runtuh dan menimbulkan ancaman nyata bagi masyarakat di sekitarnya.
Ironisnya, potensi bahaya sebesar ini justru seperti dianggap angin lalu. Lebih memprihatinkan lagi, hingga kini belum tampak adanya pemeliharaan menyeluruh atau audit teknis terhadap kekuatan struktur menara. Perawatan yang dilakukan diduga hanya bersifat seremonial mempercantik bagian yang terlihat mata, tanpa menyentuh inti persoalan di bagian atas. Menara ini seolah dibiarkan menunggu nasib, berdiri tegak namun rapuh di dalam.

Sebagai aset publik dan ikon daerah, Pakaya Tower seharusnya mendapatkan perhatian maksimal. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Menara kebanggaan ini kini lebih mirip simbol kelalaian, berdiri sebagai pengingat sunyi akan lemahnya kepedulian terhadap pemeliharaan aset daerah.
Publik pun bertanya, apakah pemerintah akan terus menunggu hingga muncul korban untuk bertindak? Ataukah Pakaya Tower harus terlebih dahulu “berteriak” melalui sebuah insiden sebelum akhirnya mendapat perhatian? Di tengah kekhawatiran itu, menara ini tetap berdiri sunyi, tua, dan sarat ancaman menunggu uluran tanggung jawab yang hingga kini belum kunjung datang. (Arb)








