LENSA.TODAY, -(GORONTALO)- Keren juga modus yang coba dimainkan oleh sang direktur di salah satu rumah sakit terbesar di Gorontalo malam pekan lalu.
Kejadian yang membuat heboh masyarakat Kota Gorontalo itu menceritakan akan sebuah modus cantik seseorang yang harus jadi panutan publik pengayom bawahan.
Berawal dari rasa iba, sayang atau semacamnya. Sang direktur meminjamkan salah satu rumahnya, kabarnya rumah itu kosong tidak ditempati.
Memang kabarnya ada aktivitas namun hanya sekedarnya. Katanya untuk rapat- rapat kecil membahas apapun itu berurusan dengan urusan kantor.
Modus rasa iba dan sayang ini pun mengharuskan sang direktur meminjamkan rumah itu untuk ditempati karyawannya. Alih-alih untuk memberikan rasa aman dari satu konflik rumah tangga.
Situasi tenang malam itu pun pecah dengan keributan malam yang membuat heboh masyarakat datang bersama pihak berwajib. Rumah itu pun digebrek oleh banyak orang. Maklum mereka menunggu cukup lama dibuka.
Menurut sumber yang hadir disana. Cukup lama mereka menunggu. Menggedor gedor pagar rumah dan berteriak-teriak. Sebab timbul pertanyaan besar, kalau hanya dasarnya rasa iba. Kenapa pintu pagar dikunci dari dalam.
Jangankan pintu pagar, pintu rumah juga terkunci rapat. Sumber yang ada disana katanya menunggu hampir ada 2 jam agar pintu dibuka. ” Kita bahkan sudah mau panjat pagar rumah,” kata orang itu.
Dari keterangan yang ada, katanya sang direktur tertidur, katanya dikursi tamu.
Pertanyaannya, kenapa tidak langsung balik, padahal rumahnya sang direktur juga diwilayah kota Gorontalo. Tidak jauh dari rumah yang kosong ini.
Punya maksud lain kah?. Punya modus tertentukah?. Tentu ini harus dijawab. Apalagi pertanyaan berikut Kenapa pintunya harus dikunci?. Maksud maksud tertentu ini yang harus dijawab.
Direktur adalah panutan. Contoh teladan bagi bawahannya dan institusi yang dipimpin. Kalau kemudian niat baik hanya untuk maksud atau modus tertentu. Maka direktur seperti ini perlu diperiksa moralnya.
Kalau hari ini yang bersangkutan berulah diinstitusi rumah sakit terbesar itu. Khawatirnya juga bakal dilakukan diinstitusi-institusi lainnya semampu dirinya menjadi raja atau atasan disana. Ini yang harus dicegah. (Arb)







