LENSA.TODAY, -(NASIONAL)- Semarak peringatan Hari Ulang Tahun Persatuan Jaksa Indonesia (Persaja) ke-75 Tahun 2026 di M Bloc Space tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga momentum penting bagi penguatan tradisi intelektual di lingkungan kejaksaan. Di tengah geliat tersebut, hadir satu kebanggaan tersendiri yakni kiprah Dr. Abvianto Syaifulloh sebagai bagian dari jajaran penulis yang turut mewarnai pameran buku Adhyaksa Readers dan Persaja Literacy Space.
Kehadiran Dr. Abvianto bukan sekadar simbol partisipasi, melainkan representasi dari komitmen seorang praktisi hukum yang terus merawat nalar akademik. Karya-karya yang ia hasilkan menjadi bukti bahwa dunia penegakan hukum tidak bisa dilepaskan dari fondasi keilmuan yang kuat. Dalam konteks ini, keterlibatannya di panggung literasi Persaja menjadi penegasan bahwa jaksa bukan hanya aparat penegak hukum, tetapi juga produsen gagasan.
Rasa bangga yang dirasakan Dr. Abvianto menjadi hal yang wajar, bahkan patut diapresiasi. Tidak semua praktisi memiliki kesempatan dan kemauan untuk menuangkan pengalaman empirisnya ke dalam karya ilmiah yang dapat diuji dan didiskusikan secara terbuka. Lebih dari itu, keberhasilannya menembus ruang pameran buku dalam forum nasional Persaja menunjukkan bahwa kualitas intelektual tetap menjadi ukuran penting dalam ekosistem profesi.
Peran Prof. Dr. Rudi Margono sebagai Reader (Jamwas) dalam kegiatan tersebut juga memberi bobot tersendiri. Posisi ini bukan sekadar seremoni membaca karya, melainkan bentuk pengakuan institusional terhadap pentingnya literasi hukum sebagai bagian dari pengawasan dan pembinaan profesi. Dengan demikian, interaksi antara penulis dan pembaca di forum ini mencerminkan dialog yang sehat antara praktik dan refleksi.
Namun, kebanggaan ini seharusnya tidak berhenti pada capaian personal. Ia perlu diterjemahkan menjadi dorongan kolektif agar semakin banyak insan Adhyaksa yang berani menulis, berpikir kritis, dan berkontribusi dalam pengembangan hukum.
Tantangan penegakan hukum yang semakin kompleks menuntut lebih dari sekadar ketegasan, ia membutuhkan kedalaman analisis dan keberanian intelektual.
Momentum HUT Persaja Ke 75 Tahun 2026 ini pada akhirnya mengingatkan bahwa kekuatan institusi tidak hanya terletak pada kewenangan, tetapi juga pada kapasitas berpikir anggotanya. Dalam sosok Dr. Abvianto, kita melihat cerminan ideal tersebut. seorang jaksa yang tidak hanya bekerja di ruang sidang, tetapi juga hadir dalam ruang gagasan.
Keikutsertaan Dr. Abvianto Syaifulloh dalam pameran buku HUT Persaja juga menegaskan posisinya tidak hanya sebagai praktisi, tetapi juga sebagai akademisi yang aktif berkontribusi dalam pengembangan hukum.
Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Gorontalo ke-16 dan Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Tengah ke-9. Dan kini menjabat sebagai Aspidsus Kejati Babel. (Arb)








