“JANGAN PULANG SEBELUM MENANG”
Kisah Andre Bone, S.Ip Melawan Kemiskinan dan Takdir
Malam itu, langit Randangan tampak muram.
Angin dari pesisir Desa Omayuwa berhembus pelan, menyapu daun-daun kelapa yang berdiri tua di halaman rumah sederhana milik keluarga Andre Bone.
Di sudut rumah papan yang mulai lapuk dimakan usia, seorang pemuda kurus duduk diam menatap sebuah tas ransel lusuh.
Namanya Andre Bone
Anak kampung yang bahkan tak pernah membayangkan bahwa hidupnya kelak akan berubah sejauh itu.
Tahun 2008 menjadi awal dari semuanya.
Bukan awal yang mewah.
Tidak ada pesta perpisahan.
Tidak ada kendaraan pribadi yang mengantar.
Tidak ada pelukan dramatis seperti adegan di televisi.
Yang ada hanyalah doa seorang ibu, tatapan berat seorang ayah, dan seorang anak muda yang berusaha menyembunyikan ketakutannya sendiri.
Andre berangkat meninggalkan kampung halamannya menuju Kabupaten Gorontalo untuk kuliah di Universitas Gorontalo.
Ia hanya membawa
dua celana panjang,
dua celana pendek,
dua kaus oblong,
dua kemeja,
dan sebuah peti pakaian kecil yang catnya mulai mengelupas.
Tidak ada telepon genggam.
Tidak ada laptop.
Tidak ada jaminan hidup.
Yang ada hanya mimpi.
Dan kadang… mimpi memang memaksa seseorang berjalan tanpa kepastian.
Perjalanan menuju Gorontalo terasa begitu panjang bagi Andre.
Di dalam mobil sewaan yang penuh sesak, ia menggenggam uang yang tersisa di tangannya.
Lima belas ribu rupiah.
Itulah seluruh modal hidupnya setelah membayar biaya pendaftaran kuliah dan ongkos perjalanan.
Lima belas ribu.
Jumlah yang hari ini mungkin habis hanya untuk secangkir kopi dan sepotong roti.
Namun bagi Andre saat itu, uang itu adalah penentu apakah ia bisa makan… atau menahan lapar.
Juni 2008, kehidupan baru dimulai.
Di kampus Universitas Gorontalo, Andre tampak berbeda dibanding mahasiswa lain. Saat teman-temannya sibuk dengan telepon genggam, pakaian bagus, dan cerita tentang keluarga berada, Andre lebih sering diam.
Ia malu.
Bukan malu karena miskin.
Tetapi malu karena sering tidak mampu memenuhi kebutuhan yang dianggap biasa oleh orang lain.
Saat ospek berlangsung, berbagai perlengkapan diminta panitia senior. Andre hampir tak pernah membawanya lengkap.
Bukan karena melawan.
Bukan karena keras kepala.
Tetapi karena ia memang tidak punya.
Dan setiap hukuman yang diterimanya, Andre hanya menunduk diam.
Karena terkadang hidup memang memaksa seseorang menelan rasa sakit tanpa mampu menjelaskan apa-apa.
Hari-hari berlalu.
Andre mulai aktif di Himpunan Mahasiswa Islam. Di organisasi itu ia menemukan semangat baru.
Baginya, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul.
Itu adalah ruang untuk belajar bertahan.
Namun ujian hidup kembali datang tanpa aba-aba.
Suatu sore, setelah selesai mengikuti kegiatan kaderisasi, Andre pulang ke rumah kontrakan tempat ia menumpang bersama teman-temannya.
Langkahnya terhenti.
Jantungnya seperti berhenti berdetak.
Seluruh barang miliknya sudah berada di luar rumah.
Tas.
Peti pakaian.
Buku-buku.
Semuanya berserakan.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada tempat mengadu.
Andre hanya berdiri mematung.
Di tengah senja yang mulai gelap, seorang anak rantau mendadak kehilangan tempat pulang.
Dengan mata yang mulai memerah, Andre mengangkat satu per satu barang miliknya. Ia berjalan tanpa arah pasti menuju kampus.
Sampai akhirnya azan Ashar terdengar menggema.
Andre berhenti di sebuah masjid di kompleks Perumahan Latoro.
Ia masuk perlahan.
Berwudhu.
Lalu salat dengan khusyuk yang bercampur air mata.
Selesai salat, Andre duduk diam di teras masjid.
Tatapannya kosong.
Ia tidak tahu malam itu harus tidur di mana.
Dan kadang, titik terendah manusia adalah saat ia tidak lagi tahu harus pulang ke mana.
Tidak lama kemudian, seorang lelaki tua datang menghampiri.
Wajahnya teduh.
Sorot matanya penuh iba.
Orang-orang memanggilnya Pak Haji Latoro.
“Dari mana, Nak?” tanyanya pelan.
Andre menunduk. Dengan suara lirih, ia menceritakan semuanya. Tentang kampung halamannya. Tentang kuliah. Tentang hidup yang mulai terasa terlalu berat.
Pak Haji Latoro diam cukup lama.
Lalu dengan suara lembut ia berkata,
“Kalau tidak punya tempat tinggal… tinggallah di masjid ini.”
Andre terdiam. Dadanya sesak.
“Cuma satu syarat,” lanjut Pak Haji.
“Sebelum sholat lima waktu, masjid harus disapu. Dan sebelum Jum’at, harus dipel.”
Andre langsung mengangguk.
Karena bagi orang yang hampir kehilangan harapan, kebaikan kecil bisa terasa seperti keajaiban Tuhan.
Malam itu, masjid menjadi rumahnya.
Tiga bulan.
Tiga bulan Andre tinggal di masjid.
Tidur beralaskan sajadah.
Menjadikan tas sebagai bantal.
Dan menjadikan langit-langit masjid sebagai saksi bisu air matanya setiap malam.
Tetapi cobaan belum selesai.
Suatu hari, Andre tidak makan selama dua hari penuh.
Perutnya terasa perih.
Tubuhnya lemas.
Ia hanya bertahan dengan meminum air keran tempat wudhu.
Hari Minggu pagi itu matahari terasa begitu terik.
Andre duduk lemah di halaman masjid.
Lalu matanya melihat sesuatu, sebatang pohon pisang roboh ke pagar masjid.
Ia berjalan perlahan mendekat.
Tangannya gemetar mengambil beberapa buah pisang.
Hari itu, Andre membuat tungku api kecil di belakang masjid. Ia merebus pisang itu dengan air seadanya.
Dan selama tiga hari…
pagi, siang, malam…
pisang rebus menjadi satu-satunya makanan yang mengganjal perutnya.
Tak ada lauk.
Tak ada nasi.
Hanya pisang rebus dan air putih.
Namun dari rasa lapar itulah Andre belajar satu hal yakni…
Bahwa manusia bisa kehilangan segalanya…
tetapi jangan pernah kehilangan harapan.
Sejak saat itu Andre mulai bekerja apa saja.
Siang hari ia membawa bentor dengan setoran Rp25 ribu.
Malam hari ia menjadi pelayan jualan di kawasan Menara Limboto dengan upah Rp15 ribu semalam.
Saat mahasiswa lain tidur nyenyak, Andre masih berdiri melayani pembeli.
Saat mahasiswa lain sibuk nongkrong, Andre sibuk menghitung uang receh untuk bertahan hidup.
Tetapi kecerdasan menjadi senjata lain bagi Andre.
Ia mulai mengerjakan tugas teman-temannya. Makalah demi makalah diketik di warnet.
Satu tugas dihargai Rp15 ribu.
Ia tidak punya laptop.
Tidak punya komputer.
Tetapi ia punya kemauan yang tidak pernah mati.
Hidup perlahan berubah.
Andre kemudian bergabung di Mapala Tilongkabila. Di organisasi itu ia kembali menemukan keluarga.
Ia diberi tempat tinggal di sekretariat mapala.
Dan dari tempat sederhana itulah langkahnya mulai naik perlahan.
Semester demi semester berlalu.
Namanya mulai dikenal.
Ia dipercaya menjadi
Sekretaris BEM FISIP,
Sekretaris Mapala,
Ketua KPMIP Limboto
Sekretaris Jenderal BEM UG,
hingga akhirnya menjadi Wakil Presiden BEM.
Dan puncaknya…
Anak kampung yang pernah tidur di masjid itu dipercaya menjadi Presiden BEM Universitas Gorontalo.
Tak ada yang menyangka.
Anak yang dulu makan pisang rebus untuk bertahan hidup… kini berdiri memimpin ribuan mahasiswa.
Setelah menyelesaikan studinya, kehidupan Andre kembali berubah.
Seminggu setelah wisuda, ia dilantik menjadi Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Gorontalo.
Tahun 2014 hingga 2017, Andre mengabdi di kampus yang dulu menjadi saksi perjuangannya.
Kampus yang pernah ia datangi hanya dengan sisa uang lima belas ribu rupiah.
Dan hidup memang lucu.
Kadang Tuhan membuat seseorang jatuh sangat dalam… agar ketika ia berdiri, ia tahu bagaimana rasanya memperjuangkan kehidupan.
Andre Bone bukan anak orang kaya.
Bukan anak pejabat.
Bukan siapa-siapa.
Ia hanya seorang anak kampung yang menolak menyerah.
Dan mungkin… itulah alasan mengapa Tuhan akhirnya memeluk seluruh perjuangannya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Anak muda yang dulu tidur di lantai masjid, memeluk tas lusuh sebagai bantal, kini duduk di ruang kerja sebagai Kepala Bagian Kemahasiswaan Universitas Gorontalo.
Tahun 2014 hingga 2017 menjadi fase baru dalam hidup Andre Bone.
Ia mulai mengenakan pakaian rapi setiap pagi.
Namanya mulai dikenal banyak mahasiswa.
Orang-orang mulai memanggilnya “Pak Kabag.”
Tetapi tidak banyak yang tahu…
Di balik senyumnya, Andre tetaplah anak kampung yang pernah bertahan hidup dengan air wudhu dan pisang rebus.
Ia tidak pernah lupa bagaimana rasanya lapar.
Tidak pernah lupa bagaimana rasanya ditolak.
Dan tidak pernah lupa bagaimana rasanya tidur tanpa kepastian.
Di tahun 2017, hidup Andre kembali berubah.
Ia menikahi seorang perempuan sederhana bernama Hadijah Hamsa, SH., yang akrab disapa Whindy.
Perempuan itu bukan hanya hadir sebagai istri.
Tetapi menjadi rumah.
Menjadi tempat Andre pulang setelah sekian lama berperang dengan hidup.
Pernikahan itu sederhana.
Tidak penuh kemewahan.
Tidak bertabur kemegahan.
Namun di dalam akad itu, ada dua orang yang sama-sama percaya
Bahwa cinta bukan tentang siapa paling kaya…
tetapi siapa yang paling siap bertahan bersama.
Setelah menikah, Andre mulai banyak berpikir.
Ia menatap masa depan.
Menatap kehidupan rumah tangga yang baru saja dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, Andre merasa takut.
Bukan takut miskin.
Tetapi takut tidak mampu membahagiakan keluarganya.
Hingga suatu hari… ia mengambil keputusan yang mengejutkan banyak orang.
Andre memutuskan berhenti bekerja dari kampus.
Keputusan itu terdengar gila.
Bagaimana mungkin seseorang meninggalkan pekerjaan yang sudah mapan?
Meninggalkan jabatan?
Meninggalkan kenyamanan?
Tetapi Andre tahu satu hal
Ia tidak ingin hidup biasa-biasa saja.
Dengan langkah pelan, Andre menghadap Ketua Yayasan, Prof.Dr. H. Rustam Hs. Akili, SE.,SH.,MH.
Ruangan itu hening.
Andre berdiri tegak di hadapan sosok yang dulu pernah membantunya membeli tiket ke Pulau Jawa saat mengikuti LK II HMI.
“Kenapa mau keluar?” tanya Prof.Rustam Akili singkat.
Andre menarik napas panjang.
Lalu dengan suara lantang ia berkata
“Di kampus ini saya tidak akan mendapat uang banyak… kecuali memeras mahasiswa.”
Ruangan mendadak sunyi.
Kalimat itu begitu jujur.
Begitu tajam.
Dan keluar dari mulut seseorang yang pernah merasakan pahitnya menjadi mahasiswa miskin.
Andre tahu bagaimana rasanya tidak punya uang membayar kebutuhan kuliah.
Karena itu, ia tidak ingin hidup dengan cara membebani mahasiswa.
Pak Prof. Rustam hanya terdiam.
Lalu perlahan mengangguk.
Pengunduran diri Andre disetujui.
Hari itu, Andre kembali memulai hidup dari nol.
Tidak lama setelah keluar dari kampus, Andre mengikuti seleksi Panitia Pengawas Kecamatan.
Banyak orang meragukannya.
Tetapi hidup selalu punya cara mengejutkan orang-orang yang suka meremehkan perjuangan.
Andre dinyatakan lulus menjadi Panwas Kecamatan Tibawa.
Bahkan lebih dari itu…
Ia dipercaya menjadi Ketua Panwascam Tibawa dengan gaji Rp2.200.000 per bulan.
Bagi sebagian orang mungkin itu angka kecil.
Tetapi bagi Andre, angka itu adalah simbol kemenangan.
Karena dulu… ia pernah bertahan hidup dengan Rp15 ribu.
Andre menjabat sebagai Ketua Panwascam dari tahun 2017 hingga 2020.
Dan selama masa itu, ia belajar satu hal penting
Bahwa hidup tidak akan berubah jika seseorang takut mengambil risiko.
Tahun 2020 menjadi babak baru yang jauh lebih nekat.
Setelah masa jabatannya selesai, Andre kembali berdiri di persimpangan hidup.
Ia tidak punya modal besar.
Tidak punya investor.
Tidak punya pengalaman membangun perusahaan.
Yang ia punya hanya keyakinan… dan dukungan seorang istri.
Di tengah malam yang sunyi, Andre berdiskusi dengan Whindy.
Tentang masa depan.
Tentang mimpi.
Tentang keberanian mempertaruhkan hidup sekali lagi.
Dan akhirnya…
Dengan mengucap bismillah, Andre mendirikan perusahaan media PT. POTRET BAHASA LENSA.
Perusahaan itu kemudian menaungi media online LENSA.TODAY dan POTRETNEWS.ID.
Tidak ada kantor mewah.
Tidak ada mobil mahal.
Tidak ada fasilitas besar.
Saat itu Andre hanya memiliki satu unit motor Beat.
Motor itulah yang menemaninya ke mana-mana, mencari berita, menemui narasumber, dan mengejar harapan.
Kadang hujan mengguyur tubuhnya di jalan.
Kadang bensin nyaris habis.
Kadang uang di dompet tinggal beberapa lembar.
Tetapi Andre tetap berjalan.
Karena orang yang pernah hidup susah… biasanya lebih tahan menghadapi kerasnya kehidupan.
Setahun kemudian, rezeki mulai datang perlahan.
Andre akhirnya mampu membelikan istrinya sepeda motor baru.
Baginya, itu bukan sekadar kendaraan.
Tetapi hadiah kecil untuk perempuan yang mau bertahan bersamanya saat hidup belum sepenuhnya baik-baik saja.
Saat itu Whindy bekerja sebagai staf teknis di Bawaslu Kabupaten Gorontalo.
Dan sekali lagi… hidup membawa mereka pada persimpangan baru.
Tahun 2023, dibuka pendaftaran Anggota KPU Kabupaten Gorontalo.
Malam itu Andre dan istrinya berbicara serius.
“Kalau kak yang daftar,” kata Whindy pelan, “siapa yang akan urus perusahaan?”
Andre terdiam.
Kalimat itu sederhana… tetapi menghantam pikirannya begitu dalam.
Karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa perusahaan yang dibangunnya dari nol kini sudah menjadi tanggung jawab besar.
Andre menunduk.
Lalu perlahan berkata
“Bismillah… torang coba.”
Maka dimulailah perjuangan panjang itu.
Tidak mudah.
Banyak yang memandang sebelah mata.
Banyak yang meremehkan.
Banyak yang merasa Whindy tidak akan mampu.
Tetapi mereka lupa satu hal
Perempuan itu didampingi oleh laki-laki yang terbiasa melawan keadaan.
Dengan jaringan, perjuangan, doa, dan keyakinan yang tidak pernah putus, Andre akhirnya berhasil mengantarkan istrinya menjadi Anggota KPU Kabupaten Gorontalo.
Dan bagi Andre… itu adalah salah satu kemenangan terbesar dalam hidupnya.
Karena kebahagiaan sejati bukan ketika diri sendiri berhasil… tetapi ketika mampu melihat orang yang dicintai ikut berhasil.
Kini hidup Andre jauh berbeda dibanding tahun 2008.
Ia telah memiliki dua orang putri
Ayra Misyara Kirana Bone
Aura Mikhaila Inara Bone
Tawa anak-anaknya kini memenuhi rumah yang dulu hanya ada dalam mimpi.
Bahkan saat ini, istrinya tengah mengandung anak ketiga dengan usia kandungan tujuh bulan.
Andre yang dulu tidur di masjid… kini pulang ke rumah bersama keluarganya.
Andre yang dulu kelaparan… kini mampu memberi makan banyak orang.
Andre yang dulu hanya memiliki Rp15 ribu… kini memiliki
satu unit mobil,
dua sepeda motor,
satu perumahan,
dan sebuah rumah pemberian orang tua istrinya.
Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah dari dirinya
Ia tetap Andre Bone…
anak kampung yang percaya bahwa hidup harus diperjuangkan.
Karena ia tahu
“Hidup yang dipertaruhkan adalah hidup yang pantas untuk dimenangkan.”







