LENSA.TODAY, -(GORONTALO)- Bayang-bayang konflik lama kembali berembus di Kabupaten Pohuwato. Nama Yosar Ruiba kembali mencuat ke ruang publik, seiring dengan rencana gerakan aksi yang akan berlangsung pada 1 hingga 7 Mei mendatang. Di tengah dinamika sosial yang kian sensitif, agenda tersebut memantik beragam respons, mulai dari dukungan hingga kekhawatiran yang menguat di kalangan masyarakat.
Sorotan tajam datang dari Andi Taufik, seorang aktivis mahasiswa Gorontalo, yang menilai bahwa gerakan yang digagas Yosar tidak bisa dilepaskan dari kepentingan tertentu. Dalam pandangannya, aksi tersebut berpotensi menjadi ruang propaganda yang membungkus kepentingan pribadi dengan narasi perjuangan rakyat.
“Gerakan ini harus dibaca secara kritis. Jangan sampai energi masyarakat dimanfaatkan untuk agenda yang tidak benar-benar berpihak pada kepentingan publik,” ujar Andi.
Ia juga menyinggung rekam jejak yang selama ini melekat pada nama Yosar, yang kerap dikaitkan dengan isu pertambangan tanpa izin. Menurutnya, keterlibatan Yosar sebagai figur lapangan dalam aksi mendatang justru menimbulkan pertanyaan besar terkait motif di balik mobilisasi massa tersebut.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Andi mengingatkan publik pada peristiwa kelam yang pernah terjadi di Pohuwato, ketika aksi massa berujung pada pembakaran kantor bupati yang menyisakan kerugian besar bagi daerah dan luka sosial bagi masyarakat. Penangkapan warga serta jatuhnya korban menjadi bukti bahwa konflik yang dipicu kepentingan tertentu dapat berdampak luas dan berkepanjangan.
“Kita tidak boleh lupa sejarah. Jangan sampai rakyat kembali dijadikan alat perjuangan, sementara hasilnya hanya dinikmati oleh segelintir orang,” tegasnya.
Di tengah meningkatnya tensi, desakan kepada aparat penegak hukum (APH) pun mulai menguat. Andi menilai bahwa langkah tegas perlu segera diambil guna memastikan supremasi hukum tetap terjaga, terutama dalam menghadapi dugaan praktik pertambangan ilegal serta potensi provokasi yang dapat mengganggu stabilitas daerah.
“Langkah dan tindakan yosar hari ini diduga bukan hanya sekedar menjadi aktor peti, akan tetapi telah menjadi racun masyarakat dengan upaya-upaya propagandanya. Jangan biarkan masyarakat Pohuwato menjadi korban atas kepentingannya,” tutup Andi Taufik. (**)







