LENSA.TODAY, -(GORONTALO)- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Gorontalo sukses menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin, Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Haul Masyayikh Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah serta tasyakuran atas suksesnya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung pada 28–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Acara dihadiri Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Gorontalo, KH. Ahmad Masduki Al-Jabalani, yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin. Turut hadir Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Gorontalo, Ariyanto Mopangga, S.Ag., bersama jajaran pengurus harian PCNU, badan otonom dan lembaga NU.
Sejumlah unsur organisasi turut hadir, di antaranya Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Gorontalo, Ketua PC Pergunu Kabupaten Gorontalo, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kabupaten Gorontalo, serta Ketua Pengurus Wilayah Pergunu Provinsi Gorontalo, Dr. H. Dikson Yanin, MHI. Kapolsek Mootilango juga hadir mewakili unsur pemerintah.
Dalam khithab iftitahnya, KH. Ahmad Masduki Al-Jabalani menekankan pentingnya menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan.
Menurutnya, keteladanan terhadap Rasulullah SAW merupakan bagian penting dari upaya seorang muslim untuk memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.
Kiai Masduki juga mengingatkan warga NU agar tidak hanya memahami NU sebagai organisasi, tetapi juga menghidupkan tradisi keilmuan, amaliah dan keteladanan yang diwariskan para ulama, masyayikh, sesepuh serta guru-guru terdahulu.
Ia menilai Haul Masyayikh Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah memiliki makna penting karena thoriqoh tersebut merupakan salah satu thoriqoh mu’tabarah yang memiliki kontribusi terhadap penguatan amaliah Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah.
“Haul Masyayikh Thoriqoh Naqsabandiyah Kholidiyah Mujaddadiyah ini merupakan haul yang sangat penting karena thoriqoh ini merupakan salah satu thoriqoh mu’tabaroh yang menurut NU mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap amaliah Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah,” tegas Kiai Masduki.
Hormati Hasil Muktamar ke-35
Dalam momentum tasyakuran Muktamar ke-35 NU, Kiai Masduki juga mengajak seluruh warga Nahdliyin di Kabupaten Gorontalo untuk menghormati seluruh hasil keputusan muktamar dengan lapang dada.
Ia berharap berbagai perbedaan pandangan yang muncul di lingkungan NU pascamuktamar dapat diakhiri dengan semangat persatuan dan kembali memperkuat kebersamaan dalam menjalankan khidmat organisasi.
“Terkait muktamar NU, saya mengajak kepada seluruh jamaah Nahdliyin di Kabupaten Gorontalo untuk menghormati seluruh hasil keputusan muktamar dengan hati lapang dan mengakhiri perbedaan-perbedaan pendapat yang ada di lingkungan NU,” imbaunya.
Maulid Jadi Ruang Perekat Kebersamaan
Peringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin tidak hanya berlangsung sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan penguatan persaudaraan masyarakat.
Menariknya, kegiatan tersebut menghadirkan perpaduan tradisi yang mencerminkan karakter masyarakat Kabupaten Gorontalo yang multikultural. Tradisi walimah Gorontalo berpadu dengan sajian makanan khas tradisi Jawa dan dikemas dalam satu momentum keagamaan.
Perpaduan tersebut menjadi gambaran bagaimana keberagaman budaya dapat hidup berdampingan dalam suasana kebersamaan.
Dalam konteks tersebut, NU dinilai memiliki peran penting sebagai perekat ukhuwah, baik ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah maupun ukhuwah Basyariyah—sejalan dengan karakter dasar jam’iyah yang diwariskan para muassis NU dan ulama terdahulu.
Rangkaian acara diawali dengan Khithab Iftitah oleh Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Gorontalo, dilanjutkan pembacaan tahlil, sholawat Diba’, serta Mahallul Qiyam Marhaban yang diiringi alunan musik hadrah.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama.
Usai prosesi seremonial, kegiatan dilanjutkan dengan silaturahmi serta diskusi lepas mengenai dinamika dan perkembangan ke-NU-an di Kabupaten Gorontalo.
Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang konsolidasi bagi jajaran pengurus, badan otonom, lembaga NU dan warga Nahdliyin untuk terus memperkuat persatuan serta menjaga tradisi keagamaan dan kebangsaan di Kabupaten Gorontalo. (**)







