LENSA.TODAY, (KABGOR)- Pengabdian sejati tidak berhenti ketika masa purna bakti tiba. Bagi seorang dokter, komitmen menjaga kesehatan dan menyelamatkan kehidupan manusia merupakan panggilan kemanusiaan yang terus melekat, melampaui batas usia, masa kerja, maupun status kepegawaian.
Semangat itulah yang mewarnai penyerahan sertifikat penghargaan kepada sejumlah dokter berdedikasi tinggi di Kabupaten Gorontalo, dalam rangkaian peringatan Hari Dokter Indonesia (HUT IDI) ke-76, Rabu (28/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Gorontalo tersebut dirangkaikan dengan Upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98, Hari Keuangan Nasional ke-80, serta Apel KORPRI tingkat Kabupaten Gorontalo tahun 2026.
Bagi para penerima penghargaan, momentum ini bukan sekadar seremoni atau penyerahan sertifikat. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas perjalanan panjang pengabdian mereka dalam membangun pelayanan kesehatan dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta daerah.
Dokter-dokter penerima penghargaan itu mayoritas merupakan purna bakti Aparatur Sipil Negara (ASN) yang telah mengabdikan diri selama lebih dari 30 tahun. Meski telah menyelesaikan tugas kedinasan, mereka tetap menjalankan profesi kedokteran sesuai bidang keahlian masing-masing.
Salah satu dokter yang menjadi bagian dari momentum penghormatan tersebut adalah dr. A.R. Mohammad, Sp.PD., FINASIM.
Dalam perspektif pengabdian profesi, perjalanan panjang para dokter senior ini memperlihatkan bahwa nilai seorang dokter tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, pangkat, atau lamanya bertugas sebagai ASN, tetapi juga oleh konsistensi menjaga profesionalisme, etika, dan kepedulian terhadap sesama.
Penghargaan tersebut sekaligus menegaskan pentingnya menghormati pengalaman dan kontribusi para dokter yang telah melewati puluhan tahun perjalanan profesi. Pengalaman mereka merupakan bagian berharga dari sejarah pembangunan kesehatan daerah dan dapat menjadi inspirasi bagi generasi dokter berikutnya.
Dalam dunia kedokteran, pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui tindakan medis dan penanganan pasien. Tanggung jawab tersebut juga mencakup pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan kesehatan, pencegahan penyakit, serta keterlibatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya hidup sehat.
Tiga pilar tersebut pelayanan medis, pendidikan dan pengembangan ilmu, serta pengabdian kepada masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga kehormatan profesi kedokteran.
Melalui peringatan HUT ke-76 IDI, semangat “IDI Berkemajuan, Berbakti untuk Bangsa” diharapkan terus menemukan maknanya dalam praktik nyata: dokter yang profesional dalam pelayanan, terus mengembangkan kompetensi, dan senantiasa menempatkan kepentingan serta keselamatan pasien sebagai prioritas.
Pada akhirnya, sertifikat penghargaan hanyalah simbol. Nilai sesungguhnya terletak pada puluhan tahun pengabdian, kepercayaan masyarakat, dan jejak kemanusiaan yang ditinggalkan para dokter dalam perjalanan pembangunan daerah.
Sebab, masa pengabdian boleh memasuki babak baru, tetapi dedikasi untuk kemanusiaan tidak seharusnya mengenal kata selesai. (Arb)








