LENSA.TODAY, -(KAMPUS)- Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak tanpa henti, tidak banyak perguruan tinggi yang memiliki warisan alam sebesar dan seberharga yang dimiliki Universitas Gorontalo. Di balik perjalanan panjang kampus yang telah melahirkan ribuan alumni dan berkontribusi dalam pembangunan daerah, tersimpan sebuah anugerah sekaligus amanah besar dari negara yakni Hutan Pendidikan Universitas Gorontalo.
Hamparan hutan yang membentang di kawasan Gunung Damar, Kabupaten Gorontalo, bukan sekadar bentang alam yang dipenuhi pepohonan. Ia adalah ruang pengetahuan yang hidup, laboratorium raksasa yang dibangun oleh alam, sekaligus simbol hubungan harmonis antara dunia akademik dan upaya pelestarian lingkungan.
Melalui Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor SK.396/Menhut-II/2004 tanggal 18 Oktober 2004, pemerintah secara resmi menetapkan kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 10.000 hektar sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk Hutan Pendidikan Universitas Gorontalo.
Penetapan tersebut menjadi sebuah peristiwa bersejarah yang menempatkan Universitas Gorontalo pada posisi istimewa di antara perguruan tinggi Indonesia. Tidak banyak kampus yang memperoleh kepercayaan negara untuk mengelola kawasan hutan dalam skala sebesar itu, apalagi menjadikannya sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Di atas tanah yang membentang ribuan hektar tersebut, alam menjadi ruang kuliah yang sesungguhnya.
Di bawah rindangnya pepohonan, mahasiswa belajar memahami makna keberlanjutan. Di antara keragaman flora dan fauna, lahir penelitian-penelitian yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Sementara di setiap jengkal kawasan itu, tersimpan pelajaran tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam tanpa merusaknya.
Keberadaan hutan pendidikan ini juga menjadi identitas yang melekat kuat pada Universitas Gorontalo, terlebih dengan hadirnya Fakultas Kehutanan yang selama bertahun-tahun menjadikan kawasan tersebut sebagai laboratorium alam bagi proses pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang kehutanan dan lingkungan hidup.
Namun sebagaimana banyak kisah besar lainnya, perjalanan menjaga warisan ini tidak selalu berjalan mudah.
Waktu membawa perubahan. Pembangunan menghadirkan tantangan. Pertumbuhan kebutuhan lahan perlahan mengubah wajah bentang alam yang dahulu begitu luas. Dalam perjalanan lebih dari satu dekade, kawasan yang awalnya mencapai 10.000 hektar dilaporkan mengalami penyusutan hingga tersisa sekitar 4.500 hektar pada tahun 2015.
Berkurangnya luas kawasan tersebut bukan sekadar kehilangan angka dalam dokumen administrasi.
Ia adalah pengingat bahwa menjaga alam membutuhkan komitmen yang jauh lebih besar daripada sekadar menetapkan sebuah kawasan di atas peta. Ia membutuhkan kesadaran kolektif, keberanian mengambil sikap, dan tekad untuk memastikan bahwa warisan yang dititipkan kepada generasi hari ini tetap dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.
Rektor Universitas Gorontalo, Dr. Robby Hunawa, menegaskan bahwa hutan pendidikan merupakan salah satu mahkota kebanggaan kampus yang harus terus dipertahankan keberadaannya.
“Universitas Gorontalo adalah salah satu universitas di Indonesia yang memiliki hutan pendidikan terluas. Ini bukan hanya kebanggaan civitas akademika, tetapi juga amanah besar yang harus dijaga bersama,” ujarnya.
Menurut Robby, nilai hutan pendidikan tidak dapat diukur semata-mata dari luas kawasan yang dimiliki. Lebih dari itu, hutan tersebut merupakan bagian dari identitas dan sejarah panjang Universitas Gorontalo dalam membangun pendidikan yang berakar pada kepedulian terhadap lingkungan.
“Hutan pendidikan ini adalah warisan akademik yang sangat berharga. Di sinilah mahasiswa belajar memahami alam secara langsung, melakukan penelitian, dan membangun kesadaran bahwa masa depan pembangunan harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan,” katanya.
Dan lebih dari itu, ia adalah simbol bahwa ilmu pengetahuan dan konservasi dapat berjalan berdampingan dalam satu tujuan besar yakni mewariskan bumi yang lebih baik kepada generasi mendatang.
“Ketika banyak kawasan hijau perlahan menghilang dari peta, Hutan Pendidikan Universitas Gorontalo tetap berdiri sebagai penanda peradaban akademik yang menghormati alam,” ujar Dr. Robby.
“Sebuah warisan yang lahir dari kepercayaan negara, tumbuh bersama semangat pendidikan, dan hingga hari ini terus dijaga sebagai bagian dari tanggung jawab moral kepada masa depan,” lanjutnya.
Karena sesungguhnya, kebesaran sebuah universitas tidak hanya diukur dari megahnya bangunan yang dimiliki, tetapi juga dari warisan yang mampu dijaganya untuk generasi yang belum lahir.
“Bagi Universitas Gorontalo, warisan itu adalah Hutan Pendidikan bagaikan permata hijau yang telah menjadi kebanggaan kampus perjuangan selama lebih dari dua dekade,” pungkas Rektor Universitas Gorontalo. (Arb)







