Tragedi Harus Menjadi Pelajaran, Bukan Alasan Memutus Mata Pencaharian dan Persaudaraan
-(OPINI)- Ketika seorang manusia berangkat dari rumah dengan harapan membawa pulang rezeki, tetapi justru kembali dalam keadaan tak bernyawa, yang tersisa bukan lagi soal dari mana ia berasal, di mana ia bekerja, atau siapa yang mengenalnya.
Yang tersisa adalah tangis keluarga, Kursi kosong di rumah, Anak-anak yang mungkin masih menunggu kepulangan ayahnya dan keluarga yang harus menerima kenyataan bahwa orang yang mereka cintai tidak akan pernah lagi mengetuk pintu rumah.
Karena itu, meninggalnya seorang pekerja tambang manual asal Popayato Timur dalam kecelakaan di kawasan pertambangan Desa Sejoli, Kecamatan Moutong, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, harus ditempatkan sebagai tragedi kemanusiaan.
Kita berduka.
Kita prihatin.
Dan yang paling penting, kita harus belajar.
Namun, duka tidak boleh menjadi alasan untuk menghakimi seluruh masyarakat.
Satu kecelakaan tidak seharusnya menghapus seluruh cerita tentang Sejoli. Satu peristiwa tidak semestinya membuat masyarakat yang selama ini hidup berdampingan berubah menjadi saling curiga.
Jangan Biarkan Satu Tragedi Menghapus Seribu Cerita
Di balik aktivitas para pekerja tambang manual, ada cerita kehidupan yang jauh lebih panjang daripada sekadar sebuah berita kecelakaan.
Ada lelaki yang meninggalkan rumah demi mencari uang sekolah anaknya.
Ada suami yang setiap hari memikirkan bagaimana dapur tetap mengepul.
Ada anak yang bekerja karena ingin membantu orang tuanya.
Ada keluarga yang mungkin tidak memiliki pekerjaan lain selain menggantungkan harapan pada penghasilan dari tambang.
Mereka datang dari Gorontalo ke Sejoli bukan membawa permusuhan.
Mereka datang membawa harapan.
Harapan sederhana yakni bekerja, mendapatkan penghasilan, kemudian pulang kepada keluarga.
Dan selama ini, masyarakat Sejoli telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Mereka bertemu di tempat kerja, berinteraksi di tengah masyarakat, saling mengenal, saling membantu, dan hidup berdampingan.
Maka sungguh menyedihkan apabila sebuah tragedi kemudian membuat hubungan yang telah terbangun sekian lama menjadi retak.
Jangan Sampai Korban Bertambah Menjadi Korban Sosial
Kita harus tegas mengatakan bahwa keselamatan manusia tidak boleh ditawar.
Setiap peringatan bahaya harus diperhatikan.
Setiap risiko harus dihitung.
Setiap aktivitas pertambangan harus mengedepankan keselamatan.
Tetapi memperbaiki keselamatan tidak berarti harus mematikan seluruh kehidupan ekonomi masyarakat.
Di sinilah persoalan harus dilihat dengan hati yang lebih luas.
Ketika seorang pekerja kehilangan kesempatan bekerja, yang kehilangan bukan hanya dirinya.
Di belakangnya ada seorang istri, Ada anak-anak, Ada orang tua,Ada kebutuhan sekolah, Ada kebutuhan makan, Ada biaya kesehatan, Ada kebutuhan rumah tangga yang tidak pernah mengenal kata berhenti.
Karena itu, jangan sampai tragedi yang telah merenggut satu nyawa kemudian melahirkan tragedi lain yang tidak terlihat.
Jangan sampai satu keluarga kehilangan orang yang dicintai, lalu ratusan keluarga lainnya kehilangan sumber penghidupan.
Jangan sampai korban kecelakaan berubah menjadi korban ekonomi.
Dan jangan sampai rasa takut berubah menjadi stigma terhadap orang-orang yang hanya sedang berusaha mencari rezeki.
Sejoli Tidak Sedang Meminta Dibela.
Masyarakat Sejoli tidak perlu diposisikan sebagai pihak yang harus dibela.
Yang dibutuhkan adalah kesempatan untuk didengar secara utuh.
Sejoli juga memiliki kehidupan.
Ada masyarakat yang hidup dari aktivitas ekonomi di wilayahnya.
Ada hubungan sosial yang telah tumbuh antara masyarakat lokal dengan para pekerja dari Gorontalo.
Ada interaksi yang selama ini berjalan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
Sejoli bukan sekadar lokasi yang muncul dalam pemberitaan setelah sebuah kecelakaan.
Sejoli adalah rumah bagi masyarakat yang juga ingin hidup tenang.
Mereka ingin bekerja.
Mereka ingin mencari penghasilan.
Mereka ingin wilayahnya berkembang.
Dan mereka juga tentu tidak ingin melihat ada manusia yang kehilangan nyawa.
Karena itu, jangan letakkan Sejoli hanya dalam satu bingkai pemberitaan.
Jangan membuat masyarakat menilai sebuah wilayah hanya dari satu tragedi.
Media Harus Menjadi Jembatan, Bukan Tembok.
Dalam situasi seperti ini, media mempunyai tanggung jawab besar.
Berita memang harus menyampaikan fakta.
Kecelakaan harus diberitakan.
Korban harus dihormati.
Namun pemberitaan juga harus mampu melihat manusia di balik sebuah peristiwa.
Sebab setiap angka memiliki keluarga.
Setiap korban memiliki cerita.
Dan setiap pekerja memiliki alasan mengapa ia memilih meninggalkan rumah untuk mencari nafkah.
Berita yang hanya menampilkan tragedi dapat membuat masyarakat takut.
Tetapi berita yang menghadirkan konteks dapat membuat masyarakat memahami.
Di sinilah media seharusnya berdiri.
Bukan untuk memperbesar jarak.
Bukan untuk menanamkan stigma.
Bukan untuk mempertentangkan Sejoli dengan Gorontalo.
Melainkan menjadi jembatan agar masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh.
Sebab sebuah berita mungkin selesai dibaca dalam lima menit.
Tetapi dampaknya bisa hidup berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, di tengah masyarakat.
Jangan Pertentangkan Sejoli dan Gorontalo
Sejoli dan Gorontalo tidak seharusnya menjadi dua nama yang dipertentangkan.
Keduanya memiliki hubungan sosial dan ekonomi yang telah terbangun.
Orang Gorontalo datang ke Sejoli untuk mencari rezeki.
Masyarakat Sejoli berinteraksi dengan mereka sebagai sesama manusia.
Tidak ada alasan untuk membangun sekat hanya karena sebuah tragedi.
Kalimat “mereka orang luar” tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan rasa persaudaraan.
Sebab ketika seseorang meninggalkan rumah untuk bekerja, yang dibawanya bukan kebencian.
Yang dibawanya adalah foto keluarga.
Doa seorang ibu.
Pesan seorang istri.
Senyum anak-anak.
Dan harapan sederhana agar ketika pulang nanti, ia membawa sesuatu untuk keluarganya.
Keselamatan Harus Diperbaiki, Kehidupan Harus Tetap Berjalan
Peristiwa ini harus menjadi momentum.
Pekerja harus semakin sadar terhadap risiko.
Pengelola lokasi harus meningkatkan pengawasan.
Masyarakat harus saling mengingatkan.
Dan seluruh pihak harus memastikan bahwa mencari nafkah tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan keselamatan.
Tetapi bersamaan dengan itu, kehidupan masyarakat juga harus dipikirkan.
Jangan sampai solusi atas sebuah kecelakaan justru menciptakan persoalan baru yang lebih luas.
Yang diperlukan adalah perbaikan, bukan permusuhan.
Yang diperlukan adalah pengawasan, bukan stigma.
Yang diperlukan adalah keselamatan, bukan pemutusan mata pencaharian secara membabi buta.
Untuk Keluarga Korban
Kepada keluarga korban, tidak ada kata yang benar-benar cukup untuk menggambarkan duka yang sedang dirasakan.
Kehilangan orang tercinta karena kecelakaan adalah luka yang tidak mudah sembuh.
Semoga keluarga diberikan kekuatan untuk melewati masa paling berat ini.
Semoga kepergian almarhum menjadi pengingat bagi kita semua bahwa keselamatan harus selalu berada di atas segalanya.
Namun biarlah duka itu menjadi pelajaran.
Jangan biarkan duka berubah menjadi kebencian.
Jangan biarkan kecelakaan berubah menjadi permusuhan.
Dan jangan biarkan satu tragedi menghapus hubungan baik yang telah terjalin antara masyarakat Sejoli dan masyarakat Gorontalo.
Karena di balik semua perbedaan, kita sebenarnya sedang memperjuangkan hal yang sama yakni Mencari rezeki, Menghidupi keluarga, Menyekolahkan anak Dan berharap bisa pulang dengan selamat.
Gorontalo tidak perlu dipertentangkan dengan Sejoli.
Mari kita berduka tanpa membenci.
Mari kita memperbaiki tanpa menyalahkan secara membabi buta.
Mari kita menjaga keselamatan tanpa memutus kehidupan.
Sebab sebuah tragedi seharusnya membuat manusia semakin dekat, bukan semakin jauh.
Pada akhirnya, masyarakat Sejoli maupun masyarakat Gorontalo adalah manusia yang sama-sama ingin hidup.
Sama-sama ingin bekerja.
Sama-sama ingin mencari rezeki.
Dan sama-sama ingin melihat keluarganya tersenyum ketika pulang ke rumah.
SEJOLI DAN GORONTALO BUKAN UNTUK DIPERTENTANGKAN.
SEJOLI DAN GORONTALO ADALAH TETANGGA, SAUDARA, DAN SESAMA PENCARI REZEKI.







